
pajangancerita.org – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengkritik langkah sejumlah negara yang mengakui Palestina secara sepihak. Menurutnya, keputusan tersebut bukan solusi damai. Ia menilai langkah itu justru memberi keuntungan besar bagi kelompok Hamas yang disebutnya sebagai organisasi teroris.
Baca Juga : “Bahlil Bantah Impor BBM Satu Pintu via Pertamina“
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Trump menyinggung upaya pengakuan negara Palestina. Ia menyebut tindakan itu sebagai “hadiah” untuk Hamas atas aksi kekerasan, termasuk serangan 7 Oktober yang menewaskan ratusan orang.
Trump menegaskan, pengakuan sepihak terhadap Palestina sama saja memberi legitimasi kepada Hamas. Menurutnya, tindakan ini hanya memperbesar peluang konflik berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Dalam pidato yang sama, Trump juga mempertanyakan efektivitas PBB. Ia menilai lembaga internasional tersebut lebih banyak menghasilkan pernyataan tanpa tindak lanjut. Trump menyebut PBB hanya “menulis surat keras” tanpa menyelesaikan perang.
Trump menyatakan dirinya berjasa mengakhiri tujuh konflik besar. Ia menyinggung ketegangan Pakistan–India, perang singkat Iran, hingga ketegangan Israel. Menurutnya, langkah Amerika Serikat lebih efektif dibanding PBB dalam menciptakan perdamaian.
Trump menyerukan negara-negara anggota PBB menolak pendekatan lama yang dinilainya gagal. Ia menekankan perlunya strategi baru yang lebih tegas dalam menghadapi ancaman global.
Hamas menguasai Jalur Gaza sejak 2007 dan kerap berkonflik dengan Israel. Serangan 7 Oktober 2023 menewaskan lebih dari 1.200 orang dan memicu perang besar di Gaza. Israel menyebut Hamas sebagai organisasi teroris, sedangkan sebagian pihak internasional menilai konflik harus diselesaikan melalui solusi dua negara.
Sejumlah negara Eropa dan Asia belakangan mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Langkah ini bertujuan mempercepat tercapainya solusi damai. Namun, langkah tersebut menuai kritik dari AS dan sekutunya yang menilai pengakuan tanpa kesepakatan justru memperkeruh konflik.
Trump menegaskan hanya Amerika Serikat yang mampu memimpin penyelesaian konflik dunia. Ia mendorong negara-negara lain mengikuti langkah Washington, bukan kebijakan PBB. Menurutnya, masa depan dunia lebih baik jika diplomasi dijalankan dengan tindakan nyata, bukan sekadar resolusi.
Trump menutup pidatonya dengan ajakan bekerja sama menghadapi ancaman global. Ia menegaskan, masa depan damai hanya bisa dicapai dengan pendekatan baru. Kritiknya terhadap pengakuan Palestina menjadi penekanan bahwa menurutnya, solusi damai tidak bisa dicapai dengan memberi ruang bagi Hamas.
Baca Juga : “Tradisi Unik China, Warga Teriak ke Bulan di Festival”